Beranda / Translation Samples / TRANSLATION C

TRANSLATION C

THE DOMESTIC VIOLENCE AGAINST AFGHAN WOMEN IN
ATIQ RAHIMI’S THE PATIENCE STONE:
A FEMINIST NEW HISTORICISM READING

Abstract

Domestic violence is physical, psychological, sexual or financial violence that takes place within an intimate or family-type relationship and forms a pattern of coercive and controlling behavior. It is very common: research shows that it affects one in four women in their lifetime. Two women a week are killed by their partners or former partners. All forms of domestic violence – psychological, financial, emotional and physical – come from the abuser’s desire for power and control over an intimate partner or other family members. Domestic violence is repetitive and life-threatening, it tends to worsen over time and it destroys the lives of women and children. Domestic violence has long been common in Afghanistan as depicted in Atiq Rahimi’s Patience Stone. The present article discusses the domestic violence against Afghan Women in the novel through the lenses of feminism and new historicism. It is also combined with Rabrindranath Tagore’s conception on woman.

INTRODUCTION

Violence against women is the most pervasive yet least recognized human rights abuse in the world around the world at least one woman in every three has been beaten, coerced into sex, or otherwise abused in her lifetime. Most often the abuser is a member of her own family known as the intimate partner abuse (The Population Information Program, Center for Communication Programs, 1999: 1)

The Population Information Program, Center for Communication Programs has stated in their Population Reports (1995: 5):

“Often referred to as “wife- beating,” “battering,” or “domestic violence,” intimate partner abuse is generally part of a pattern of abusive behavior and control rather than an isolated act of physical aggression. Partner abuse can take a variety of forms including physical assault such as hits, slaps, kicks, and beatings; psychological abuse, such as constant belittling, intimidation, and humiliation; and coercive sex. It frequently includes controlling behaviors such as isolating a woman from family and friends, monitoring her movements, and restricting her access to resources.”

Abuse of women and girls, regardless of where and how it occurs, is best understood within a “gender” framework because it stems in part from women’s and girls’ subordinate status in society. Worldwide, one of the most common forms of violence against women is abuse by their husbands or other intimate male partners. Partner violence occurs in all countries and transcends social, economic, religious, and cultural groups. Although women can also be violent and abuse exists in some same-sex relationships, the vast majority of partner abuse is perpetrated by men against their female partners. (ibid: 3)

These phenomena have occurred throughout the world including Afghanistan. Located at a crossroads between Central Asia, Iran, and the Indian subcontinent, Afghanistan emerged as a buffer state between the British Empire and Czarist Russia during the Great Game conflicts of the 19th Century. Fragmented along ethnic, religious, linguistic, and cultural lines with a predominantly rural population, its history has since been characterized by weak state-society relations, the enduring strength of the tribal periphery, chronic underdevelopment compounded by decades of war (Cortright and Persinger, 2010: 3)

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PEREMPUAN AFGHANISTAN DALAM THE PATIENCE STONE KARYA ATIQ RAHIMI DENGAN LENSA FEMINIS HISTORISISME BARU

Abstrak

            Kekerasan dalam rumah tangga berupa kekerasan fisik, psikologis, seksual maupun kekerasan keuangan kerap terjadi dalam hubungan intim atau hubungan keluarga dan membentuk pola penindasan serta pengendalian perilaku. Hal ini sangat umum: penelitian menunjukkan bahwa itu mempengaruhi satu dari empat wanita dalam hidup mereka. Dalam seminggu dua wanita dibunuh oleh pasangan atau mantan mereka. Semua bentuk kekerasan dalam rumah tangga seperti kekerasan psikologis, keuangan, emosional dan fisik dipicu karena adanya keinginan pelaku kekerasan untuk menguasai dan mengendalikan pasangan intim atau anggota keluarga lainnya. Kekerasan dalam rumah tangga biasanya berulang dan mengancam jiwa, itu cenderung memburuk dari waktu ke waktu dan itu merusak kehidupan perempuan dan anak-anak. Kekerasan dalam rumah tangga telah (lama) biasa terjadi di Afghanistan seperti yang digambarkan Atiq Rahimi dalam The Patience Stone. Artikel ini hadir untuk membahas kekerasan dalam rumah tangga terhadap Perempuan Afghanistan dalam novel melalui lensa feminisme dan historisisme baru. Hal ini juga dikombinasikan dengan gambaran Rabrindranath Tagore terhadap wanita.

PENDAHULUAN

            Kekerasan terhadap perempuan adalah isu yang paling cepat menjalar hingga diakui sebagai pelanggaran hak asasi manusia di seluruh dunia karena satu dari tiga wanita telah dipukuli, dipaksa melakukan hubungan seks, atau dilecehkan seumur hidupnya. Yang sering terjadi—dari kebanyakan pelaku kekerasan justru merupakan anggota keluarganya sendiri yang dikenal sebagai penyiksa pasangan intim (Program Informasi Penduduk, Pusat Program Komunikasi, 1999: 1)

Program Informasi Penduduk, Pusat Program Komunikasi telah menyatakan dalam Laporan Populasi mereka (1995: 5):

Sering dikaitkan dengan “penyiksaan istri,” “pemukulan,” atau “kekerasan dalam rumah tangga,” penyiksaan pasangan intim umumnya merupakan bagian dari pola perilaku kasar dan kontrol daripada tindakan terisolasi dari serangan fisik. Penyiksaan terhadap pasangan bisa saja berupa berbagai bentuk termasuk serangan fisik seperti memukul, menampar, menendang, dan menghajar; pelecehan psikologis, seperti meremehkan terus-menerus, menggertak, dan penghinaan; serta seks paksa. Ini sering mencakup perilaku pengendalian seperti mengasingkan seorang wanita dari keluarga dan teman-teman, pemantauan gerakannya, dan membatasi akses ke sumber dayanya. ”

Perlakuan yang tidak pantas terhadap wanita dan anak gadis, terlepas dari mana dan bagaimana itu terjadi, paling mudah dipahami dalam bingkai gender karena sebagian berasal dari perempuan dan status rendah sebagai perempuan dalam masyarakat. Di seluruh dunia, salah satu bentuk yang paling umum dari kekerasan terhadap perempuan adalah pelecehan oleh suami mereka atau pasangan pria intim lainnya. Kekerasan pasangan terjadi di semua negara dan melampaui kelompok-kelompok sosial, ekonomi, agama, dan budaya. Meskipun perempuan juga bisa menjadi kasar dan balik melecehkan dalam beberapa hubungan sesama jenis, tetap saja sebagian besar penyiksaan pasangan dilakukan oleh seseorang yang berperan sebagai “laki-laki” terhadap pasangan “wanita” mereka. (ibid: 3)

Fenomena ini telah terjadi di seluruh dunia termasuk Afghanistan. Terletak di persimpangan jalan antara Asia Tengah, Iran, dan India, Afghanistan muncul sebagai negara penyangga antara Kerajaan Inggris dan Tsar Rusia selama konflik Laga Yang Hebat dari abad ke-19. Terbagi oleh garis etnis, agama, bahasa, dan budaya dengan penduduk mayoritas pedesaan, sejarah sejak itu telah ditandai oleh hubungan antar negara-masyarakat yang lemah, kekuatan abadi dari pinggiran suku, keterbelakangan kronis dan diperparah dengan dekade perang (Cortright dan Persinger, 2010: 3).

Tags:

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment